7 Desa Lahan Pertanian di Pace Nganjuk Terdampak Krisis Air, Ternyata ini Biang Keroknya

7 Desa Lahan Pertanian di Pace Nganjuk Terdampak Krisis Air, Ternyata ini Biang Keroknya

NGANJUK, (majanews.com) – Keluh kesah para petani yang mempunyai lahan pertanian di wilayah Kecamatan Pace Kabupaten Nganjuk Jawa Timur semakin terasa, kabarnya selama 3 tahun lahan persawahan mengalami krisis air akibat Dam Sungai Bodor tak memiliki palang pintu akibat jebol tersapu derasnya aliran sungai.

Hasil informasi yang dihimpun majanews.com, beberapa hari yang lalu terdengar keluhan dari Sujarwo selaku Kepala Desa (Kades) Plosoharjo Kecamatan Pace mengatakan, sudah 3 tahun lamanya lahan pertanian di 6 Desa di wilayah Pace mengalami krisis air.

“Krisis air ini akibat dam sungai bodor kewenangan Balai Besar Wilayah Sungai Brantas (BBWSB) jebol, akibatnya aliran air terus berjalan akibat tak berpalang pintu,” kata Kades.

Masih dikatakan, sehingga air dari sungai besar tak bisa di bendung dan tentunya tidak bisa mengalir ke sungai kecil atau parit untuk mengairi lahan persawahan para petani, setiap tahun kita juga sudah usulkan lewat muawarah rencana pembangunan.

“Namun kami juga sadar kalau itu wilayah kewenangan Balai besar berantas dan bukan kewenangan pemerintah daerah Nganjuk, lagi pula kalau toh itu di dinkerjakan juga menelan biaya sangat besar, bisa bisa mencapai milyaran rupiah,” ujar nahkoda desa Plosoharjo.

Adanya persoalan tersebut, team majanews.com berupaya melakukan investigasi dilokasi dam sungai Bodor yang terletak di Desa Banaran Kecamatan Pace Nganjuk, dilokasi tampak terlihat bekas terjadi ambrolnya pintu air sehingga masih menyisakan kaki pondasi sebagai kenangan yang sudah tak utuh lagi.

Akibatnya, tidak ada penahan pintu air sehingga air dari sungai bodor secara lepas tak terbendung dan tentunya tidak bisa mengalir ke aliran sungai irigasi, hal ini hingga detik ini, pada Senin (27/05/2025).

Salah satu perangkat Desa Banaran Kecamatan Pace saat di temui team majanews com di kantor desa membenarkan apa yang telah di ucapkan Kades Plosoharjo sebagai bahan sumber informasi.

“Apa yang di katakan pak lurah Plosoharjo itu benar, jadi yang terdampak lahan persawahan tidak mendapat aliran air itu ada 7 Desa, yaitu Banaran, Plosoharjo, Kecubung, Getas, Jetis ,Bodor dan Gemenggeng, jadi tidak hanya petani yang mendapat dampak,” tegasnya kepada majanews.com, Senin (27/5/2025).

Namun, karena bila musim penghujan air sungai meluap ke permukiman warga Desa Banaran, akibatnya permukiman warga kebanjiran, demikian jelas perangkat desa Banaran Pace.(nyoto)