Nahas, Seorang Janda di Ngoro Mojokerto Jadi Korban Penganiayaan Tetangga

Nahas, Seorang Janda di Ngoro Mojokerto Jadi Korban Penganiayaan Tetangga
Streaming

MOJOKERTO, (majanews.com) – Nasib nahas menimpa Tatik Wahyu Kusminingsih (41), warga Dusun Glatik RT 002 RW 002, Desa Watesnegoro, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Mojokerto, Jatim, ia menjadi korban penganiayaan oleh tetangganya sendiri, pada Minggu (8/3/2026) siang. Akibat pukulan bertubi – tubi di wajah, wanita paruh baya ini mengalami luka serius di kepala hingga mengeluarkan darah.

Atas kejadian itu, korban melaporkan kasus tersebut ke Polsek Ngoro dengan nomor laporan polisi LP/B/1/III/2026/SPKT/POLSEK NGORO/ POLRES MOJOKERTO/POLDA JAWA TIMUR.

Informasi yang diterima majanews.com, kejadian berawal saat tetangganya, Eriyono alias Fakhur Huda (55), hendak mengeluarkan mobil dari garasi. Namun, mobilnya terhalang oleh sepeda motor PCX milik anak korban yang terparkir di pinggir jalan. Dengan nada marah, Huda menyuruh agar sepeda motor tersebut segera dipindahkan.

“Terus saya bilang. Mbak, sepedanya dinaikkan, soalnya anak saya lagi di WC, jadi enggak sempat. Akhirnya, sepeda motor itu saya naikkan sendiri ke teras rumah. Setelah saya masuk ke dalam rumah, pot bunga mawar dibuang saya lihat dengan mata kepala saya sendiri,” ungkap Tatik panggilan akrabnya korban penganiayaan tersebut saat ditemui awak media dirumahnya pada Senin, (16/3/2026).

Masih dikatakan, melihat pot bunganya dibuang, terjadilah cekcok. Saya didorong-dorong, lalu anak saya keluar dari kamar mandi. Melihat ibunya didorong, ia pun refleks melerai.

“Terus saya dihantam pakai kepalan tangan di wajah, pertama satu kali setelah itu saya jatuh itu masih dihantam lagi” imbuhnya.

Lebih lanjut, tak tega melihat ibunya dianiaya hingga berdarah, anak perempuan semata wayangnya itu berusaha melindungi sang ibu. Namun, ia malah mendapat hantaman benda tumpul di kepala.

“Terus dia ambil tong sampah, dipukul ke kepala anak saya sampai pecah tempat sampahnya, sampai kepala anak saya banyak benjolan pak” ujarnya.

Bukannya meminta maaf, janda anak satu itu malah mendapat intimidasi dan ancaman dari keluarga pelaku. Ia diancam akan mati ditabrak motor jika kasusnya dilaporkan ke polisi.

“Kemarin itu ada mediasi saya gak mau. Saya minta lanjut, pas mediasi tidak ada inisiatif minta maaf atau apa. Malah itu mbaknya ngancam – ngancam saya di kantor polisi, lihat saja kalau kamu berani lanjut saya tutup jalan ini” pungkasnya.

Pada hari yang sama, Eriyono alias Fahur Huda, terlapor dugaan penganiayaan yang mengaku sebagai pendiri Pondok Pesantren (Ponpes) Darul Yatama Wal Dhuafa, membenarkan kejadian tersebut. Ia menceritakan bahwa peristiwa itu terjadi pada hari Minggu sekitar pukul 08.00 WIB. Saat itu, ia hendak menjemput kepulangan anaknya dari pondok di Jombang, namun mobilnya tidak bisa keluar karena terhalang pot bunga.

Setelah ia memindahkan pot bunga tersebut, ia kemudian dipukul di bagian belakang kepala oleh Lisa, anaknya Bu Tatik.

“Saya diam saja, saya malah dikeroyok, ditendang. Saya bilang, puasa-puasa, jangan puasa, kemudian anak saya yang perempuan, mahasiswi semester 1, keluar dan bilang, tanah warisan ae gawe royokan. Langsung anak saya dipukul dan dikeroyok. Saya membela diri, saya tangkis begini,” kata Ustadz Huda saat ditemui majanews.com di rumahnya.

Fahur Huda, (terlapor dugaan penganiayaan) ia juga mengaku sebagai pendiri Pondok Pesantren (Ponpes) Darul Yatama Wal Dhuafa di kecamatan Ngoro kab.mojokerto.

Huda, panggilan akrabnya, membantah jika luka di dahi Bu Tatik hingga berdarah disebabkan oleh pukulannya. Ia mengklaim bahwa luka tersebut terjadi karena korban terjatuh dan terbentur lantai.

“Kalau luka di dahi kepala itu bukan karena pukulan, melainkan karena jatuh terbentur tegel. Pukulan saya itu di sini, di bagian bawah mata, sampai ada memar. Kata komandan, memang ada memar di bagian bawah mata,” tambahnya.

Lebih jauh, Huda juga menjelaskan bahwa di dunia ini tidak mungkin kepala sampai pecah hanya karena dipukul. Ia mencontohkan pengalamannya di pondok pesantren dulu saat mengikuti pelatihan bela diri. Kata gurunya, wajah dipukul hingga 10 kali pun tidak akan bocor.

“Bisa bocor kalau kena benda tajam. Tapi saya tidak pakai benda tajam. Begini, saya hanya membela anak saya. Jatuh itu tadi karena menabrak dan terkena tekel,” pungkasnya..

Sementara itu, Alfian, anggota Polsek Ngoro yang bertugas menjaga pos depan saat ditemui majanews.com untuk mengonfirmasi kasus penganiayaan kepada pihak Polsek Ngoro, ia menjawab bahwa Kapolsek tidak ada dikantor.

“Kapolsek dan Kanit lagi ada acara buka bersama di Pemkab, saya tidak tahu mas saya hanya jaga di pos depan,” kata petugas tersebut. Ikuti berita lanjutan dan menarik lainnya hanya di majanews.com (ben/tim)