Dinilai Jalan Rusak dan Kurang Layak, Momen Apel Persada atau Renungan Suci di Perayaan HUT RI Terancam Gagal

Dinilai Jalan Rusak dan Kurang Layak, Momen Apel Persada atau Renungan Suci di Perayaan HUT RI Terancam Gagal
Streaming.

MOJOKERTO, (majanews.com) – Perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia (RI) sudah mulai terasa, Namun, Untuk agenda yang dikemas Apel Persada atau Renungan Suci yang digelar tahunan saat HUT RI, yang mana selalu diikuti jajaran Forkopimda Kabupaten Mojokerto di Dusun Kebon Alas, Desa Segunung, Kecamatan Dlanggu, Kabupaten Mojokerto, terancam gagal digelar.

Aan Rusli Ubaidillah (47), warga Dusun Kebon Alas, Desa Segunung, Kecamatan Dlanggu, Kabupaten Mojokerto mengatakan kepada majanews.com, ia bersama keluarga menolak Momen Apel Persada atau Renungan Suci yang akan digelar di makam kakeknya. Sang Kakek diketahui bernama Mardaib adalah seorang pejuang yang gugur pada tahun 1948.

Momen Apel Persada atau Renungan Suci menurut Gus Ubet, panggilan akrab cucu pejuang 1945 bernama Mardaib, menilai kurang bermanfaat. Ia sebelumnya mengusulkan agar dana kegiatan Apel Persada atau Renungan Suci dialokasikan untuk perbaikan jalan menuju makam serta penghubung tiga desa, dikarnakan kondisi jalan sudah rusak parah, serta kerap menimbulkan kecelakaan lalu lintas.

“Pihak keluarga bukannya tidak mau, melainkan lebih cenderung menginginkan agar penghormatan terhadap jasa para pahlawan dapat memberikan manfaat langsung bagi masyarakat sekitar,” kata Gus Ubet, saat ditemui majanews.com secara exsklusif di makam sang kakek.pada Minggu (8/8/2026).

Di sini, setiap malam tanggal 16 Agustus, masih dikatakan Gus Ubet, biasanya pukul 00.00 WIB dilaksanakan Apel Persada atau Renungan Suci, “Untuk tahun ini seyogianya saya tiadakan,” Sambungnya.

Masih dikatakan, Saya selaku cucunya tidak menghendaki itu, Kita ingin Pemerintah Daerah (Pemda) Gus Bupati, memperhatikan jerih payah pahlawan ini agar lebih bermanfaat bagi lingkungan sekitar, khususnya Dusun Kebon Alas, Desa Segunung, Kecamatan Dlanggu, serta berdampak bagi Dusun Sumber Ringin dan Dusun Ngrayung.

“Ini penghubung jalan dari Desa Kalen dan juga Desa Punggul sampai ke Desa Pohjejer. Jalan ini mulai dari saya kecil, rusak seperti ini bahkan banyak korban kecelakaan,” tegas cucu pejuang tersebut.

Kita agendakan yang bermanfaat, lanjut Gus Ubet, termasuk jalan ini, setidaknya diperhatikan atau diprioritaskan. Menurutnya, saat masih menjabat sebagai Ketua Komisi III DPRD pada tahun 2014, ia pernah mengalokasikan dana perbaikan pengaspalan untuk jalan tersebut.

“Namanya aspal, kena hujan, kena sembarangan, aspal goreng terkelupas habis total. Jadi, ya begitulah keadaan jalannya, banyak memakan korban. Ada yang kakinya patah, ada yang tangannya patah, bahkan sampai ada yang koma,” jelasnya.

Keluarga Gus Ubet berharap, agar jalan ini diprioritaskan karena merupakan jalan poros desa yang anggarannya tidak bisa ditanggung oleh desa. Mbah Lurah sudah mengatakan, jika bisa ditanggung oleh dana desa, perbaikan pasti akan segera dilakukan. Namun, karena jalan ini merupakan kewenangan DPUPR dan harus menggunakan anggaran dari Pemerintah Daerah, proses perbaikannya pun harus melalui lelang di DPUPR.

“Nah, seyogianya kami sangat berharap agar hasil jerih payah Mbah Mardaib selama memperjuangkan kemerdekaan ini dapat bermanfaat bagi masyarakat Desa Segunung dan Kabupaten Mojokerto pada umumnya, khususnya warga Dusun Kebon Alas yang mayoritas petani dengan jalan seperti ini tidak layak” harapnya.

Ia menambahkan, jalan rusak ini sudah hancur total sejak tahun 2016 dan belum tersentuh perbaikan hingga saat ini.

Ruslan, warga Dusun Kebon Alas, Desa Segunung, kecamatan dlanggu, kab.mojokerto.

Di tempat yang sama, menanggapi jalan rusak, Ruslan, warga Dusun Kebon Alas, Desa Segunung, mengatakan. bahwa dirinya setiap hari melewati jalan ini. Sawahnya berada di belakang pemakaman dan memang benar ada makam seorang pahlawan di sini, yaitu Pak Mardaib. Menurutnya, kondisi jalan sudah sangat parah dan dibiarkan saja oleh Pemerintah Daerah.

“Banyak yang jatuh saat melewati jalan ini, baik yang membawa gabah, jagung, dari sawah pulang lewat disini,” ungkap Ruslan yang mengaku petani setempat.

Petani itu berharap, agar jalan di desanya segera diperbaiki. Jalan di desa tetangga sudah bagus-bagus, kenapa jalan yang ini malah dibiarkan saja.

“Ada masalah apa, padahal jalan ini sangat dibutuhkan bagi masyarakat dan ada juga makam pahlawan,” pungkasnya.(mif/tim).