JOMBANG, (majanews.com) – Warga Desa Sumberejo, Kecamatan Wonosalam, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, baru baru ini dibuat resah adanya kandang ternak burung puyuh berdekatan dengan pemukiman warga. Keresahan muncul gegara lalat beterbangan dilingkungan sekitar, serta bau yang kurang sedap.
Informasi yang dihimpun majanews.com, Poniman, Ketua RT 002 Dusun Sidolegi, Desa Sumberejo, Kecamatan Wonosalam, Kabupaten Jombang, mengungkapkan. bahwa warga pernah melaporkan persoalan itu kepadanya tentang kandang ternak burung puyuh keluarkan bau menyengat. Bukan hanya itu, lalat juga muncul di pemukiman warga yang tidak jauh dari kandang.
“Begini keluhnya, bagaimana Pak RT, Cak Toro punya kandang puyuh kok kalau panen limbahnya kayak gini bikin resah pemukiman, khususnya di rumah,” ungkapnya saat ditemui awak media dirumah RT. pada Senin, (22/6/2026) sore.
Masih dikatakan, kotoran puyuh yang dibuang begitu saja menimbulkan serbuan lalat ke rumah-rumah warga. Ia telah melaporkan persoalan ini ke Badan Permusyawaratan Desa (BPD) dan Kepala Dusun (Kasun) untuk mencari solusi namun tidak ada respon.
RT tersebut juga menegaskan bahwa peternakan burung puyuh adalah milik seorang perangkat desa. Laporan warga ke Pemerintah Desa (Pemdes) tak pernah digubris.
“Lah situ kan sebagai pejabat Kaur Keuangan dan saya sebagai perwakilan RT 002, saya juga sudah lapor ke teman-teman BPD dan Kepala Dusun dan sudah saya utarakan ke sana, ini bagaimana dampaknya warga kayak gini,” tambahnya.
Poniman berharap, Toro pemilik kandang memiliki toleransi dengan tidak mendirikan kandang puyuh di tengah permukiman padat penduduk. Menurutnya, kandang seharusnya berjarak minimal 1–2 kilometer dari pemukiman agar tidak merugikan warga sekitar.
Dihari yang sama, Toro, pemilik kandang burung puyuh membantah keras tuduhan tersebut saat dikonfirmasi majanews.com dengan media lain. Ia mengklaim bahwa bau dan lalat justru berasal dari kandang ayam petelur Java yang tak jauh dari permukiman warga.
“Miliknya pak Dharwan dulu, kandang ayam kalau panen biasanya mudal terus efeknya ke rumah warga,” katanya kepada majanews.com saat ditemui di kandang burung puyuh miliknnya dibelakang rumah. Toro juga diketahui sebagai pejabat Desa (Kaur Keuangan) Desa setempat.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa ternak ayam petelur tersebut memiliki cabang di Manduro. Kandang yang ada di sini hanya untuk pembesaran, dan setelah besar ayam akan disetorkan ke sana.
Masih dikatakan Toro, Persoalan kotoran kandang burung puyuh miliknya setiap pagi dikumpulkan dan dibuat pupuk, untuk jumlah burung puyuh sekitar seribu ekor.
“Kotornya itu tidak ada dirumah pagi saya kumpulkan saya bawa ke kebun buat pupuk, berdirinya sudah satu tahun setengah tahun 2024, bulan Oktober, tanggal 28 dengan kapasitas seribu ekor. Lama kandang ayam petelur dari pada saya,” pungkasnya, ikuti berita lanjutan dan menarik lainnya hanya di majanews.com, (mif/tim).







