MBG di Salah Satu Sekolahan di Kecamatan Puri Sayur ada Ulatnya, Akiyat: Benar Saya Akui Memang Ada

MBG di Salah Satu Sekolahan di Kecamatan Puri Sayur ada Ulatnya, Akiyat: Benar Saya Akui Memang Ada
Streaming

MOJOKERTO, (majanews.com) – Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang ada di Desa Ketamasdungus, Kecamatan Puri, Kabupaten Mojokerto, dalam penyaluran Makanan Bergizi Gratis (MBG), telah menjadi rasan rasan miring oleh wali murid sekolah yang ada di wilayah Puri, pasalnya, dalam sayur di nampan yang mau di makan oleh murid sekolah ada ulatnya, hal itu juga muncul di komen akun tiktok majanews.com pada Senin (27/10/2025) lalu.

Berikut komen keluhan wali murid sekolah yang ada di tiktok majanews.com saat rilis berita SPPG wilayah Jambuwok Kecamatan Trowulan. dan ditegaskan pula saat sayur ada ulatnya terjadi pada hari Senin (27/10/2025).

Hal tersebut mendapat pengakuan dari Akiyat yang mengaku sebagai mitra penanggung jawab dapur penyalur MBG SPPG Ketamasdungus, Kecamatan Puri, ia menjelaskan bahwa dirinya yang bertanggung jawab, ia sudah melakukan menetralisir berkomunikasi kepada sekolah – sekolahan, pada guru atau pada siswa tersebut.

“Saya di SPPG ini sebagai mitra atau penanggung jawab dapur, saya juga pertanggung jawab didapur maupun yang ada dibawah. Tetap, apapun yang terjadi dibawah kita melakukan menetralisir berkomunikasi kepada sekolah – sekolahan, pada guru atau pada siswa tersebut,” tegas Akiyat saat dikonfirmasi oleh majanews.com dengan media lain dikediamannya yang tidak jauh dari dapur SPPG, Kamis (30/10/2025).

Masih dikatakan, untuk belatung saya jamin tidak ada, kalau ulat ada di sayur contohnya kayak brokoli, sawi, atau yang lainnya. Kemudian ada komentar yang mendiskreditkan kita supaya tidak membangun itu lain lagi urusannya.

“Kalau toh itu memberi masukan membangun, kita terima dengan baik, kemarin misalkan ada buah busuk yang kita berikan. Saya jamin tidak ada, kalau memang ada tolong berikan ke kita,” sambungnya.

Namun, Kalau sayuran ada ulat, memang betul adanya. Benar saya akui memang ada, mangkanya kita semaksimal mungkin untuk menetralisir hal tersebut kita melakukan kegiatan dari awal sayur sudah kita cuci tapi toh karena terlalu banyaknya ada yang kesangkut entah satu atau berapa.

“Dalam satu minggu pasti ada sayurnya, dalam satu minggu 5 kali pengiriman ke sekolah. Misalnya kita pakai 3.500 porsi perhari, bearti ada sekitar 12.500 porsi dalam satu minggu, apabila ada satu yang kelewatan persentasenya 0,001 sekian persen,” rinci pemilik dapur tersebut.

Lebih lanjut, terus bahaya tidak ada masalah ulat itu, sangat tidak bahaya, kalau tertelan tidak bahaya. Nah karena itu ulat dari sayuran yang tidak membahayakan jika tertelan dari situ kita bisa memberikan edukasi.

“Bahwa ketika sayuran itu ada ulatnya, berarti sayuran itu sehat artinya apa sayuran disitu minim sekalai pektisida,” katanya.

Kendati demikian, apabila sayuran itu ada bolong – bolongnya bearti itu bagus, pasti disitu intektisida sangat minim sekali. Berarti para petani mengerjakan sawah tersebut, lahan tersebut, petani tersebut minim dari intektisida, kalau mulus tidak ada bolongnya nah itu perlu ada yang dipertanyakan.

“Kalau panen dari green house, saya jamin semua SPPG tidak kuat untuk beli karena anggrannya itu jauh,” pungkas Akiyat yang juga mantan Anggota DPRD Kabupaten Mojokerto preode lalu.(mif/tim)