Bakteri dapat Berkembang pada Air Minum yang Kurang Steril Penyimpanannya

Bakteri dapat Berkembang pada Air Minum yang Kurang Steril Penyimpanannya
Sumber foto Google

PASURUAN (majanews.com) – Satu percobaan kandungan air minum di lakukan baru baru ini untuk mengetahui kandungan bakteri dalam air minum dan keamanannya bagi kesehatan.

Hasil percobaan di sampaikan kemarin oleh tenaga kesehatan puskesmas (Ratna) kepada majanews.com dari Lumbang Pasuruan kemarin, Sabtu (31/12/2022).

Tenaga kesehatan di salah satu puskesmas ini mengambil sampling air bersih dan air minum di 4 rumah warga.

“Saya sampling air bersih dan air minum di 4 rumah tangga di desa wonorejo kecamatan Lumbang. Setiap rumah tangga saya sampling air bersih dan air minum yg biasa dikonsumsi sehingga total dapat 8 sampel air,” tuturnya menjelaskan kepada reporter majanews.com. Sabtu (31/12/2022).

Iapun mengungkapkan hasilnya setelah dibiarkan selama 1×24 jam.

“Lalu diuji kandungan bakteriologisnya dan hasilnya setelah dibiarkan dalam inkubator selama 1×24 jam, jumlah bakteri melebihi jumlah minimal yg dipersyaratkan,” sambungnya.

Lebih lanjut ratna mengatakan, Untuk air bersih batasnya 50, untuk air minum harus 0, karena kandungan bakteri dalam air, apalagi dalam air minum dapat menimbulkan gangguan kesehatan.

“Bakteri ini akan mati saat air direbus/dipanaskan dalam suhu 100 derajat celcius,” imbuh ratna.

Namun, ternyata hasil yang ia dapatkan, dari sampel air yang sudah direbuspun masih terdapat bakteri.

“Bisa jadi ini terkontaminasi dari tempat penyimpanan air yang tidak bersih/tidak ditutup atau hygiene perseorangan yg kurang bersih, misalnya tangan kotor dan lain sebagainya,” ulasnya.

Bermula dari kenyataan inilah ia selalu membuat satu kontrol agar menjadi tolak ukur kualitas air minum.

“Nah, disitu saya selalu menguji air untuk kontrol yaitu berupa air aquadest, dimana aquadest ini air yang tanpa cemaran, sehingga hasilnya tetap putih bersih,” jelas petugas kesehatan tersebut.

Dalam teori nya kandungan yang tidak boleh ada dalam air bersih dan air minum adalah kandungan bakteri e-coli, di mana bakteri ini wajib 0 di dalam air minum.

Istimasi bakteri penelitian perugas medis dalam kandungan air.

Cemaran e-coli didalam air minum menunjukkan air minum itu tercemar oleh tinja (kotoran manusia).

Melalui 8 sampel air yang di uji di temukan ada 1 sampel air bersih yang positif mengandung e-coli (ditandai dengan titik warna biru pada media).

Air bersih beda dengan air minum. Boleh saja ada bakteri di air bersih karena air bersih tidak untuk dikonsumsi langsung. Namun tidak demikian pada air minum, air minum harus bersih dari bakteri.

Sejatinya bakteri akan mati jika dipanaskan, namun beberapa masyarakat terbiasa menggunakan air minum mentah. “Ini yang bahaya,” tegas Ratna.

Menutup uraiannya, Ratna memberikan saran yang bisa di perhatikan oleh masyarakat luas agar terjaga dari sakit yang muncul akibat air minum yang tidak bersih (mengandung bakteri).

Demikian beberapa saran bagi masyarakat yang ia sampaikan ;

 1. Edukasi dan sosialisasi untuk merebus air terlebih dahulu saat akan diminum/dikonsumsi.

2. Menyimpan air yang siap minum di tempat bersih dan tertutup rapat.

3. Boleh menggunakan AMDK karena sudah melalui proses quality control di pabrik, dan ber-izin BPOM.

4. Seandainya menggunakan air isi ulang, pastikan depot air minum ulang sudah bersertifikat laik hygiene sanitasi dan memeriksakan airnya secara rutin 1 bulan sekali.

(Reporter :  Abdul Ali)