Penutupan Pasar Hewan di Nganjuk Tak Menyurutkan Niat Pedagang Melakukan Jual Beli

Pedagang Hewan telihat ngelapak di luar area pasar, karena pasar hewan di tutup oleh Pemrrintahan Nganjuk.

NGANJUK (majanews.com) – Terkait maraknya wabah penyakit mulut dan kuku (PMK) yang menjangkit pada hewan ternak khususnya sapi dan kambing, Pemerintah Daerah Kabupaten Nganjuk beberapa minggu yang lalu telah menutup pasar hewan sesuai dengan surat edaran (SE) Plt Bupati Nganjuk Nomor: 443.4/1749/411.317/2022.

Meskipun adanya SE tersebut, para pedagang atau blantik di pasar hewan di wilayah Warujayeng, Kecamatan Tanjunganom tetap melakukan transaksi seperti biasa. Kali ini para pedagang melakukan akad jual beli diluar lokasi pasar, dikarnakan pasar tersebut telah di nonaktifkan pemerintah setempat

Penelusuran majanews.com di lokasi pasar itu terlihat begitu rame, para pedagang dan penjual membanjiri area luar pasar hewan pada hari Minggu (5/6/2022) beberapa minggu yang lalu.

Selain di wilayah Kelurahan Warujayeng hal senada juga sempat di rasakan dan dikeluhkan oleh salah satu ASN OPD UPTD Pasar Berbek Nganjuk. ASN tersebut juga mengeluh tentang keberadaan jual beli di pasar berbek juga meluber di jalanan, dikarnakan imbas dari penutupan pasar hewan di berbek.

Menurutnya, dengan adanya hal tersebut sangat butuh perhatian atas kebijakan yang harus diberlakukan lagi, harap ASN itu kepada kuli tinta media ini, Senin (13/6/2022).

Adanya hal tersebut, Ir. Yudi Erwanto selaku Kepala Dinas Peternakan dan Pertanian (Dispari) saat ditemui di ruang kerjanya oleh majanews.com menjelaskan, secara umum dalam pengelolaan pasar ada di Dinas Indag, kalau mengenai wabah PMK dan terkait penutupan pasar hewan, bahwa hari ini tadi juga melakukan rapat bersama.

“Dalam rapat membahas bahwa kedepan akan kami lakukan Evaluasi karena hal ini juga mengingat menjelang datangnya hari raya idul adha,” ujar pejabat tersebut, Senin (13/6/2022).

Baca Juga :  Gus Miftah Akan Hadir Di Kota Mojokerto, Wali Kota Undang Seluruh Masyarakat
Spanduk terpampang di area pasar hewan yang ada di Nganjuk.

Lebih lanjut, mengingat hal tersebut disatu sisi tentunya pedagang juga berat untuk menerima penutupan pasar hewan. Namun secara umum kita menjaga lebih besar kepentingan peternakan.

“Sehingga ini juga salah satu menjadi atensi dari Plt.Bupati dan Sekda, untuk menghadapi datangnya hari raya idul adha dan dalam waktu satu minggu hingga dua minggu ini  masih di kaji,” jelasnya.

Pihak Dispari juga berharap, dengan catatan dan konskuwensi harus bisa saling menerima, artinya ketika hewan ternak ini mau masuk pasar ternyata hewan ternak itu sakit maka harus dibawa pulang.

“Para pedagang juga harus paham kalau hewan itu sakit ya jangan dibawa kepasar, kita juga tidak ingin masyarakat dirugikan,” sambungnya.

Disinggung adanya penutupan pasar namun para pedagang meluber memadati jalan di area pasar, pihak Dispari akan Evaluasi terkait adanya hal tersebut. Supaya OPD Indag mengkoordinasikan terkait adanya penertiban.

“Kita tidak berharap karena tujuan kita baik dan takutnya malah menjadi miskomunikasi oleh para pedagang. Menurut hasil surve Dinas Peternakan sampai saat ini terjadi 2000 Ekor Hewan suspek dan kesembuhan sudah mencapai 600 ekor yang mati ada 6 ekor. Penyumbang angka suspek pada hewan yaitu wilayah Kecamatan Loceret, Baron, Gondang dan Wilangan,” pungkas Yudi panggilan akrab pejabat Dispari tersebut.(m.to)