Diduga Tidak Transparan Dalam Pengelolaan Tanah Kas Dusun dan Bantuan Alat Pertanian, Kepala Dusun Sawoan Jadi Pergunjingan Warga

Sholeh, Kepala Dusun Sawoan saat dikonfirmasi Majanews.com, Rabu (25/3/2020).

MOJOKERTO (Majanews.com) – Kepala Dusun (Kadus) Sawoan, Desa Sawo Kecamatan Kutorejo Kabupaten Mojokerto, beberapa pekan terakhir menjadi pergunjingan warga dusun setempat.

Rasan-rasan itu terkait kinerja Kepala Dusun yang diduga tidak transparan dalam pengelolaan tanah kas dusun maupun bantuan alat pertanian dari Pemerintah Daerah (Pemda).

Seperti yang dikatakan Suhadak, Ketua LSM GAKK (Garda Anti Korupsi dan Ketidakadilan) Mojokerto saat memberikan keterangan kepada beberapa awak media kemarin. Menurut Suhadak, pihaknya mendapat pengaduan dan laporan dari masyarakat yang mengatasnamakan warga Dusun Sawoan.

Dalam pengaduannya, warga melaporkan kinerja Kepala Dusun Sawoan dalam pengelolaan tanah kas dusun setempat dan bantuan alat pertanian yang didapat dari Pemerintah Daerah.

Menurut warga, Kepala Dusun Sawoan lebih dari 8 tahun, tidak pernah mengadakan rapat atau musyawarah yang melibatkan warga, RT maupun RW dalam pengelolaan tanah kas dusun maupun bantuan alat pertanian seperti Hand Tractor beserta Deasel dan Pompanya. ”Ada dugaan, semua dikuasai sendiri oleh Kepala Dusun,” ungkap Suhadak.

Masih Ketua LSM GAKK, persoalan warga Dusun Sawoan ini, rencananya akan saya laporkan ke Bupati melalui inspektorat dan penegak hukum, kalau perlu langsung ke Kejaksaan Negeri Kabupaten Mojokerto,” tegas mantan wartawan ini dengan nada tinggi.

Nur Kholis, Kepala Desa Sawo saat memberikan klarifikasi pada Majanews.com di serambi rumahnya, Rabu (25/3/2020)

Dikonfirmasi terkait pengelolaan tanah kas dusun dan bantuan alat pertanian, Sholeh Kepala Dusun Sawoan menjelaskan bahwa, pengelolaan tanah kas dusun itu sudah saya serahkan ke saudara Bahrudin dan Sudarmaji (Panitia dusun, red) sekitar tahun 2010 lalu.

“Kalau masalah rapat atau musyawarah, Tahun 2012 masih ada rapat, cuma setiap diadakan musyawarah pasti kisruh atau bertengkar,” jelas Sholeh, saat dikonfirmasi Majanews.com di ruang tamu rumahnya, Rabu (25/3/2020).

Disinggung mengenai bantuan alat pertanian (Hand Traktor, Diesel dan Pompa), yang dipakai sendiri. Sholeh berdalih yang mengusulkan itu dirinya, jadi wajar kalau bantuan alat pertanian itu dipakai sendiri. “Bantuan itu dari salah satu partai, dan itu tidak gratis, saya mengeluarkan dana sebesar Rp 6 Juta, total semua sekitar Rp 9 Juta. Kalau saya sewakan ke luar, ya wajar wong saya yang mengusulkan dan mengeluarkan uang,” dalih Sholeh.

Terpisah Nur Kholis, Kepala Desa (Kades) Sawo, Kecamatan Kutorejo Kabupaten Mojokerto mengatakan, kalau permasalahan pengelolaan tanah kas dusun Kepala Dusun Sawoan itu, tidak bisa ikut campur. Pasalnya, disetiap dusun itu masing-masing mempunyai Anggaran Dasar dan Aturan Rumah Tangga (AD / ART) sendiri-sendiri.

”Kalau terkait bantuan alat pertanian itu, sudah saya ambil alih sekitar dua tahun lalu dan sebelumnya sudah saya sarankan untuk menggelar rapat dusun, minimal satu kali dalam setahun,“ kata Kades saat dikonfirmasi Majanews.com di serambi rumahnya, Rabu (25/3/2020).

Disinggung langkah apa yang akan diambil bila terjadi gejolak di Dusun Sawoan. Dengan diplomatis, Nur Kholis mengatakan akan secepatnya mengklarifikasi persoalan tersebut ke Sholeh selaku Kepala Dusun Sawoan. (Ryan)

》Share Disini