Mediasi Pertama Pengelolaan Lahan Perhutani Masih Saling Sanggah

Suntiyaningsih (Baju putih) saat mediasi dengan Suamim ( Depan sebelah kanan) di ruang kerja Kades Pakis.

MOJOKERTO (Majanews.com) – Mediasi pertama antara Suntiyaningsih dan Suamim, tampaknya perlu mendapat perhatian khusus.

Pasalnya, mediasi yang dilakukan di ruang kerja Kepala Desa (Kades) Pakis Kecamatan Trowulan Kabupaten Mojokerto tersebut belum menghasilkan sebuah keputusan.

Keduanya yang merupakan mantan suami istri, masih menggunakan argumen untuk mencari pembelaan dan pembenaran.

Suntiyaningsih (36) yang mengaku sebagai korban, tetap pada pendiriannya untuk meminta haknya untuk bisa mendapatkan setengah dari lahan perhutani yang mereka kelola sebelum bercerai.

Suamim mantan suami Suntiyaningsih yang diduga menguasai lahan perhutani seluas 15 hektar.

Sedangkan Suamim (41) yang diduga menguasai lahan perhutani seluas 15 hektar, mengakui kalau pihaknya memang mengelola lahan perhutani itu.

“Luasnya tidak sampai 15 hektar, namun hanya 5 hektar,” sanggah Suamim.

Menurut Suamim, pengelolaan lahan itu memang dilakukan, karena harus menanggung hutang sewaktu masih bersama istri.

Khoirul Hadi, Kepala Desa Pakis Kecamatan Trowulan Kabupaten Mojokerto mengatakan, sebagai Kepala Desa, pihaknya tidak bisa menjustis atau menyalahkan siapa yang salah.

Khoirul Hadi ( Tengah) Kades Pakis saat memberikan penjelasan kepada Suhadak Divisi Pemberdayaan LSM GAKK usai mediasi.

“Saya disini hanya sebagai penengah atau mediator warga saya,” kata kades yang didampingi Yasik, Kaur Umum dan Sekdes dan perangkat lainnya.

Sementara itu, Suhadak Divisi Pemberdayaan LSM GAKK, mengaku siap mengawal persoalan yang diamanatkan.

“Ini menyangkut kepentingan warga, yang mengarah pada ketidakadilan, sampai ke mana pun pihaknya siap mengikuti. Kalau perlu kita laporan ke pihak Perhutani,” tandas Hadak. (Ryan)

》Share Disini