Mojokerto – Walikota Mojokerto, Mas’ud Yunus mengajak elemen TP PKK mendukung gerakan anti money politic di hajatan Pilkada serentak Juni mendatang.

Ajakan agar organisasi mitra pemerintah itu menolak praktek kotor politik uang dalam pilkada dicetuskan saat memberi sambutan dalam peringatan Hari Kesatuan Gerak PKK ke-46 yang diselenggarakan Tim Penggerak (TP) PKK Kota Mojokerto di GOR dan Seni Mojopahit, Kamis (15/3/2018).

“Mari wujudkan Pilkada yang bersih dan bermartabat, pilih sesuai hati nurani. TP PKK Kota Mojokerto juga harus mendukung gerakan anti money politic,” katanya.

Lebih lanjut Walikota meminta, didalam menghadapi Pilkada di Kota Mojokerto, agar masyarakat khususnya ibu-ibu PKK untuk menggunakan hak pilihnya sesuai dengan hati nurani masing-masing.

Selain soal Pilkada, orang nomor wahid di lingkup  Pemkot Mojokerto ini juga mengajak anggota PKK untuk meningkatkan peran dan fungsinya di lingkungan keluarga dan masyarakat.

“Jika ingin Indonesia menjadi negara damai, maka yang harus diupayakan adalah agar keluarga-keluarga bisa damai. Kalau keluarga damai, masyarakat dan negara kita akan damai,” tuturnya.

Walikota pun mengatakan, keberadaan PKK di Kota Mojokerto sangat dirasakan masyarakat.

“PKK merupakan mitra pemerintah dalam melaksanakan pembangunan di bidang sosial, pendidikan, kesehatan, perekonomian. Karena itu peran serta PKK sangat diperlukan untuk menyukseskan pembangunan daerah di Kota Mojokerto, dan bagaimana agar PKK bisa menciptakan suatu keluarga damai dan sejahtera,” harapnya.

Birokrat ulama ini pun menyinggung peran ibu seperti yang diajarkan agama. “Seorang ibu adalah tiang negara. Jika  ibunya baik, cerdas dan bermoral, maka keluarga, masyarakat akan menjadi bangsa yang besar, sejahtera dan berakhlak. Namun apabila ibu rusak, maka rusaklah seluruh negeri. Ini menunjukkan betapa besar peran ibu dalam membangun keluarga, bangsa dan negara,” ujarnya.

Dalam tataran domestik, Wali Kota juga menjelaskan peran ibu menjadi pendamping suami yang baik, dan menjadi pendidik bagi anak-anak.

“Keluarga adalah institusi pendidikan informal, artinya orang tua pendidik yang utama dan terutama bagi anak-anaknya,” katanya.

Sementara itu, Ketua TP PKK Kota Mojokerto, Siti Amsah Mas’ud Yunus, mengatakan selama rentang usia PKK ini, gerakan PKK tidak pernah mengalami situasi pasang surut, karena PKK senantiasa tumbuh dan berkembang seiring dengan dinamika perkembangan pembangunan di Indonesia.

“Sebagai keluarga besar PKK, saya berharap kita semua tidak menjadi jumawa dan berbangga hati secara berlebihan, hendaknya kader PKK rendah hati namun tidak rendah diri, karena rendah hati ini landasan dari semua kebajikan,” ungkapnya. (dak/adv)